Monday, 30 March 2015

PROPOSAL SKRIPSI

Proposal adalah cikal bakal skripsi yang akan disusun oleh mahasiswa. Proposal haruslah memuat isi skripsi secara teori. Penyusunan proposal skripsi harus melihat topik dari jurusan yang sedang diambil. Ini bertujuan untuk memantapkan keahlian mahasiswa dari jurusan yang sedang dipelajarinya. Selain itu, proposal skripsi bertujuan untuk mempersiapkan mahasiswa untuk menyusun skripsi yang akan dikaji. Oleh karena itu, proposal skripsi sangat menentukan bagi mahasiswa untuk mencapai gelar sarjana.



Contoh di sini adalah proposal skripsi mengenai pemanfaatan teknologi sebagai sarana marketing. Solusi pemanfaatan teknologi adalah berbisnis dengan teknologi yang dimiliki. Peluang-peluang positif yang menarik tersebar di berbagai website di internet dan media pemasaran lainnya.  Perkembangan komunikasi telah mempengaruhi perkembangan ekonomi. Transaksi jual beli pada saat ini dapat dilakukan secara langsung maupun tidak langsung (telepon). Perkembangan media elektronik ditandai dengan semakin berkembangnya dunia teknologi informasi. Saat ini dikenal adanya social network di mana chatting (obrolan) menjadi salah satu pilihan cara berkomunikasi. Hal ini pula yang membuat komunikasi menjadi lebih bervariasi sehingga banyak orang mencoba untuk memanfaatkannya.

Berdasarkan latar belakang di atas, penelitian ini bermaksud untuk meneliti minat beli mahasiswi di kalangan Mahasiswa-mahasiswi Universitas (Nama Universitas) melalui group Blackberry messenger. Beberapa dari mahasiswa Universitas (Nama Universitas) merupakan pelaku transaksi melalui group blackberry messenger, baik sebagai pembeli ataupun sebagai penjual (seller). Penelitian ini merupakan replikasi dari makalah Nomor KNSI-275 dari Konferensi Nasional Sistem Informasi 2013 yang berlangsung di STMIK Bumigora Mataram pada tanggal 14-16 Pebruari 2013. Makalah ini disusun oleh Mariani, et al. (2013). Penelitian mengenai pengaruh promosi penjualan melalui Blackberry Shop masih jarang dilakukan. Namun, Blackberry Shop merupakan sarana potensial dalam dunia marketing di masa sekarang dan mendatang. Inilah yang menjadi latar belakang penulis untuk mengadakan penelitian mengenai  pengaruh promosi penjualan produk di Group Blackberry Messenger terhadap Minat Beli Mahasiswa-mahasiswi Universitas (Nama Universitas).

Pada bagian kedua proposal, perumusan masalah disusun. Pada bagian ini, masalah yang hendak dibahas dalam skripsia itu apa saja. Misalnya, bagaimana pengaruh promosi penjualan melalui Blackberry messenger terhadap Purchase Intention Mahasiswa-mahasiswi Universitas (Nama Universitas). Apa saja faktor-faktor yang mempengaruhi niat beli mahasiswa-mahasiswi Universitas (Nama Universitas) terhadap promosi penjualan produk di group Blackberry messenger.
Pada bagian ketiga, tujuan penelitian disusun. Tujuan penelitian ini memuat tujuan dan kegunaan penelitian dilakukan. Selain untuk menambah wawasan mengenai topik, skripsi disusun untuk pengembangan perusahaan yang sedang diteliti. Misalnya, untuk mengetahui pengaruh promosi penjualan pakaian wanita di group Blackberry messenger, untuk mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi Purchase Intention Mahasiswa-mahasiswi Universitas (Nama Universitas) terhadap promosi produk di group Blackberry messenger. Kegunaan Penelitian adalah kegunaan teoritis, untuk menerapkan ilmu yang diterima penulis selama menjadi Mahasiswa-mahasiswi Universitas (Nama Universitas), serta menambah wawasan dan pengetahuan penulis terhadap promosi penjualan melalui group Blackberry messenger.

Metode Penelitian memuat waktu dan lokasi penelitian seperti penelitian ini telah berlangsung selama bulan Maret hingga Mei 2012. Berlokasi di Universitas (Nama Universitas). Populasi dan Sampel memuat seluruh mahasiswa angkatan 2008 – 2011 yang berjumlah 147 orang. Sampel diambil dari sebagian populasi.  Misalnya, dari populasi yang ada penulis menarik sampel sebanyak 109 mahasiswi yang menggunakan blackberry dan tergabung dalam group online-shopping blackberry. Sehingga peneliti menggunakan teknik sampling berstrata (stratified sampling). Teknik sampling berstrata adalah populasi yang dikelompokkan ke dalam kelompok atau kategori yang disebut strata (contohnya dalam hal ini adalah angkatan 2008, 2009, 2010, dan 2011).

Demikian informasi ini kami sampaikan. Atas perhatian dan kunjungannya, kami ucapkan terima kasih. Semoga rekan-rekan mahasiswa dapat menyelesaikan skripsinya dengan cepat dan lancar.

CONTOH KATA PENGANTAR SKRIPSI

Teman-teman yang sudah menyelesaikan meja hijau, pasti merasakan kegembiraan yang luar biasa. Di sini saya memberikan contoh Kata Pengantar Skripsi. Syukur Alhamdulillah, penulis panjatkan atas kelancaran, kemudahan, kekuatan, dan titik cerah yang telah diberikan Allah SWT, sehingga terselesaikan juga penulisan tesis ini yang diajukan untuk melengkapi sebagian syarat guna menyelesaikan Studi Akhir Program Pasca Sarjana Program Studi Magister Sains Akuntansi pada Universitas (Nama Universitas). Maksud dari penelitian yang berjudul “ANALISIS PENGARUH (Silahkan isi Judul Skripsi Anda) “ adalah untuk menganalisis tingkat kesesuaian antara (Silahkan isi Topik Skripsi Anda)

Dalam penyusunan tesis ini penulis menyadari bahwa keberhasilan penyelesaiannya bukan semata-mata karena usaha sendiri, melainkan juga berkat bantuan, dorongan semangat, dukungan dan bimbingan dari banyak pihak. Untuk itu, pada kesempatan ini dengan penuh ketulusan penulis menyampaikan ucapan terima kasih kepada orang-orang yang telah berjasa dalam penyusunan skripsi Anda. Pada umumnya orang-orang yang disebut dalam kata pengantar skripsi adalah rektor universitas, dekan jurusan mahasiswa, dosen-dosen, para penguji pada saat meja hijau. Akan tetapi, jangan lupakan tim administrasi. Selama ini bagian administrasi berjasa besar dalam pengelolaan universitas dan keberlangsungan proses belajar dan mengajar mahasiswa. Untuk lebih jelasnya, setelah gambar ini, saya akan memaparkan orang-orang yang pantas ditulis dalam kata pengantar skripsi anda.



Pertama. Nama Ketua Program Studi selaku Ketua Program Studi Magister Sains Akuntansi. Kedua, Nama Pembimbing Tesis Utama sebagai Pembimbing Utama yang telah memberikan banyak masukan dalam proses penyelesaian tesis ini. Ketiga, Nama Pembimbing Tesis Anggota Sebagai Pembimbing Anggota yang telah dengan sabar meluangkan waktu mengoreksi dan memberikan masukan dalam proses penyelesaian penulisan tesis ini. Keempat, Nama Dosen yang telah berjasa yang telah memberikan bantuan dan masukan dalam proses penulisan tesis ini. Kelima, seluruh Dosen pada Program Studi Magister Sains Akuntansi FE (Nama Universitas) yang telah mamberikan tambahan pengetahuan pada saya selama mengikuti pendidikan. Keenam, seluruh Staf Pengelola dan Administrasi Program Studi Magister Sains Akuntansi FE atas bantuan dan dukungannya sehingga proses belajar menjadi lebih menyenangkan. Ketujuh, Nama-nama teman seangkatan. Kedelapan, Sahabat terbaik terima kasih atas persahabatan yang tak ternilai harganya. Serta teman-teman yang mungkin belum disebutkan. Kesembilan, para Responden dan Contact person di Lingkungan. Kesepuluh Dan semua pihak yang tidak dapat disebutkan satu persatu yang telah ikut memberikan sumbangan bagi terselesaikannya skripsi ini. 

Penulis berharap semoga tulisan sederhana ini dapat menjadi setitik ilmu yang berguna dan dapat memberikan sumbangan pikiran yang bermanfaat bagi pihak-pihak yang berkepentingan. Tidak lupa penulis mengharapkan kritik dan saran yang membangun demi perbaikan tesis ini, karena penulis menyadari bahwa tulisan ini masih banyak kekurangan yang harus diperbaiki di masa mendatang.
Nama Daerah, Tanggal Penyelesaian Tesis
Penulis


Selamat Menyelesaikan Skripsinya.

CONTOH LATAR BELAKANG SKRIPSI

Anda sedang mengalami kesulitan menyusun latar belakang skripsi? Di sini jawabannya. Latar belakang skripsi memuat masalah apa yang hendak dibahas. Di sini saya akan menyajikan salah satu contoh latar belakang skripsi akuntansi. Latar belakang skripsi adalah awal penyusunan skripsi dan salah satu menjadi penilaian proposal skripsi Anda diterima.

Anggaran merupakan komponen penting dalam sebuah organisasi, baik organisasi sektor swasta maupun organisasi sektor publik. Menurut Hansen dan Mowen, Setiap entitas  pencari laba ataupun nirlaba bisa mendapatkan manfaat dari perencanaan dan pengendalian yang diberikan oleh anggaran. Perencanaan dan pengendalian merupakan dua hal yang saling berhubungan. Perencanaan adalah pandangan ke depan untuk melihat tindakan apa yang seharusnya dilakukan agar dapat mewujudkan tujuan-tujuan tertentu. Pengendalian adalah melihat ke belakang, memutuskan apakah yang sebenarnya telah terjadi dan membandingkannya dengan hasil yang direncanakan sebelumnya.
Anggaran merupakan komponen utama dalam perencanaan. Munandar, mengungkapkan pengertian anggaran adalah sebagai berikut: “Suatu rencana yang disusun secara sistematis yang meliputi seluruh kegiatan perusahaan, yang dinyatakan dalam unit (kesatuan) moneter dan berlaku untuk jangka waktu (periode) tertentu yang akan datang”. Menurut Mulyadi 1993 dalam Nurcahyani 2010, anggaran disusun oleh manajemen dalam jangka waktu satu tahun untuk membawa perusahaan ke kondisi tertentu yang diperhitungkan. Dengan anggaran, manajemen mengarahkan jalannya kondisi perusahaan. Tanpa anggaran, dalam jangka pendek perusahaan akan berjalan tanpa arah, dengan pengorbanan sumber daya yang tidak terkendali.

Sebelum anggaran disiapkan, organisasi seharusnya mengembangkan suatu rencana strategis. Rencana strategis mengidentifikasi strategi-strategi untuk aktivitas dan operasi di masa depan, umumnya mencakup setidaknya untuk lima tahun ke depan. Organisasi dapat menerjemahkan strategi umum ke dalam tujuan jangka panjang dan jangka pendek. Tujuan-tujuan ini membentuk anggaran dasar. Hubungan erat antara anggaran dan rencana strategis membantu manajemen untuk memastikan bahwa semua perhatian tidak terfokus pada operasional jangka pendek. Hal ini penting karena anggaran, sebagai rencana satu periode, memiliki sifat untuk jangka pendek.

Sistem anggaran memberikan beberapa kelebihan untuk suatu organisasi. Menurut Hansen dan Mowen, kelebihan dari sistem anggaran diantaranya anggaran mendorong para manajer untuk mengembangkan arahan umum bagi organisasi, mengantisipasi masalah, dan mengembangkan kebijakan untuk masa depan. Kelebihan lain anggaran adalah dapat memperbaiki pembuatan keputusan. Anggaran juga memberikan standar yang dapat mengendalikan penggunaan berbagai sumber daya organisasi dan memotivasi karyawan. Selain itu, anggaran dapat membantu komunikasi dan koordinasi. Anggaran secara formal menginformasikan rencana organisasi pada tiap pegawai. Jadi, semua pegawai dapat menyadari peranannya dalam pencapaian tujuan tersebut. Oleh karena anggaran untuk berbagai area dan aktivitas organisasi harus bekerja bersama untuk mencapai tujuan organisasi, maka dibutuhkan adanya koordinasi. Peranan komunikasi dan koordinasi menjadi semakin penting seiring dengan meningkatnya ukuran organisasi. 

Anggaran digunakan sebagai pedoman kerja sehingga proses penyusunannya memerlukan organisasi anggaran yang baik, pendekatan yang tepat, serta model-model perhitungan besaran (simulasi) anggaran yang mampu meningkatkan kinerja pada seluruh jajaran manajemen dalam organisasi. Proses penyusunan anggaran, dapat dilakukan dengan beberapa pendekatan yaitu topdown, bottom up dan partisipasi (Ramadhani dan Nasution, 2009). 

Dalam sistem penganggaran top-down, rencana dan jumlah anggaran telah ditetapkan oleh atasan/pemegang kuasa anggaran sehingga bawahan/pelaksana anggaran hanya melakukan apa yang telah ditetapkan oleh atasan/pemegang kuasa anggaran. Penerapan sistem ini mengakibatkan kinerja bawahan/pelaksana anggaran menjadi tidak efektif karena target yang diberikan terlalu menuntut namun sumber daya yang diberikan tidak mencukupi. Atasan/pemegang kuasa anggaran kurang mengetahui potensi dan  hambatan yang dimiliki oleh bawahan/pelaksana anggaran sehingga memberikan target yang sangat menuntut dibandingkan dengan kemampuan bawahan/pelaksana anggaran. Oleh karena itu, entitas mulai menerapkan sistem penganggaran yang dapat menanggulangi masalah di atas yakni sistem penganggaran partisipatif (participative budgeting). Melalui sistem ini, bawahan/pelaksana anggaran dilibatkan dalam penyusunan anggaran yang menyangkut subbagiannya sehingga tercapai kesepakatan antara atasan/pemegang kuasa anggaran dan bawahan/pelaksana anggaran mengenai anggaran tersebut (Omposunggu dan Bawono, 2007). 
Penganggaran partisipatif (participative budgeting) merupakan pendekatan penganggaran yang berfokus pada upaya untuk meningkatkan motivasi karyawan untuk mencapai tujuan organisasi. Konsep penganggaran ini sudah berkembang pesat dalam sektor swasta (bisnis), namun tidak demikian halnya pada sektor publik. Dalam sektor publik, penganggaran partisipatif belum mempunyai system yang mapan sehingga penerapannya pun belum optimal. 

Anggaran merupakan rencana tindakan-tindakan pada masa yang akan datang untuk mencapai tujuan organisasi. Pada organisasi sektor swasta (bisnis), tujuan dimaksud adalah mencari laba (profit oriented), sementara pada organisasi sektor publik/non-bisnis tidak (non-profit oriented). Oleh karena tujuannya berbeda, maka rencana kerja yang disusun juga berbeda. Dengan demikian, pendekatan dalam penyusunan anggaran di kedua jenis organisasi juga berbeda.

Menurut Mardiasmo (2004), anggaran merupakan pernyataan mengenai estimasi kinerja yang hendak dicapai selama periode waktu tertentu yang dinyatakan dalam ukuran finansial. Proses pembuatan anggaran dalam sector publik merupakan tahapan yang cukup rumit dan mengandung nuansa politik yang tinggi. Dalam organisasi sektor publik, penganggaran merupakan suatu proses politik. Hal tersebut berbeda dengan penganggaran pada sektor swasta yang relatif lebih kecil nuansa politisnya. Pada sektor swasta, anggaran merupakan bagian dari rahasia perusahaan yang tertutup untuk publik, namun sebaliknya pada sektor publik anggaran justru harus diinformasikan kepada publik untuk dikritik, didiskusikan, dan diberi masukan. Anggaran sektor publik merupakan instrumen akuntabilitas atas pengelolaan dana publik dan pelaksanaan program-program yang dibiayai dengan uang publik. 

Lebih lanjut, Mardiasmo (2004) mengemukakan bahwa anggaran memiliki fungsi sebagai alat penilaian kinerja. Kinerja akan dinilai berdasarkan pencapaian target anggaran dan efisiensi pelaksanaan anggaran. Kinerja manajer publik dinilai berdasarkan berapa yang berhasil dicapai dikaitkan dengan anggaran yang telah ditetapkan. 

Thompson (1967) dalam Wiliams (1990) sebagaimana dikutip oleh Ahmad dan Fatima (2008) mendorong para peneliti untuk memeriksa perilaku anggaran dalam organisasi sektor publik. Perilaku anggaran mungkin dapat berbeda dalam organisasi sektor publik dibandingkan dengan perilaku anggaran pada organisasi sektor swasta. Williams (dikutip oleh Ahmad dan Fatima, 2008) menyatakan bahwa penelitian mengenai hubungan partisipasi anggaran dan kinerja manajerial dalam sektor publik adalah penting. Namun, literatur sampai saat ini, telah melalaikan penelitian terkait hubungan partisipasi anggaran dan kinerja manajerial pada organisasi sektor publik, khususnya di negara-negara berkembang.



Di Indonesia sendiri, penelitian mengenai hubungan antara partisipasi anggaran dan kinerja manajerial pada sektor swasta sudah banyak dilakukan diantaranya Supriyono (2004, 2005), Sumarno (2005), Ghozali (2002, 2005), Slamet Riyadi (2000), Sardjito (2005). Sedangkan penelitian terkait hubungan partisipasi anggaran dan kinerja manajerial pada sektor publik (pemerintah daerah) masih terbatas misalnya penelitian yang dilakukan Ompusunggu dan Bawono (2007). Penelitian-penelitian tersebut menambah faktor-faktor lain yang diduga dapat mempengaruhi hubungan antara partisipasi anggaran dan kinerja. 

Hal tersebut dilakukan sebagai tindakan alternatif atas ketidakkonsistenan hasil-hasil penelitian yang dilakukan oleh peneliti-peneliti terdahulu. Nouri (dikutip oleh Supriyono, 2004) menyatakan bahwa pada awal-awal riset antara partisipasi anggaran dan kinerja manajer menunjukkan bukti yang tidak meyakinkan (inconclusive) dan seringkali bertentangan. Hasil riset tersebut ada yang menunjukkan asosiasi negatif secara signifikan (Campell dan Gingrich, 1986; Ivancevich, 1977 dalam Supriyono, 2004), positif secara signifikan (Brownell dan Mclnes, 1986; Chenhall dan Brownell, 1988; Early, 1985; Milani, 1975; Steers, 1975 dalam Supriyono, 2004), negatif tidak signifikan (Dosett, Latam, dan Mitcell, 1979; Mia, 1988 dalam Supriyono, 2004), dan positif tidak signifikan (latham dan Marshall, 1982; Latham dan Yukl, 1976 dalam Supriyono, 2004).

Penelitian ini bertujuan untuk menguji pengaruh partisipasi anggaran dan komitmen organisasi terhadap kinerja manajerial pada organisasi sektor publik. Penelitian ini dilakukan di Badan Diklat Propinsi Sulawesi Selatan. Penelitian ini disusun dengan judul “Pengaruh Partisipasi Anggaran terhadap Kinerja Manajerial melalui Komitmen Organisasi “.
Silahkan mencoba.

CONTOH SKRIPSI

Apabila Anda saat ini sedang menyusun skripsi, skripsi tentang promosi penjualan dapat menjadi salah satunya. Promosi penjualan sangat relevan untuk dunia kerja sekarang. Perusahaan modern mengelola sistem komunikasi pemasaran yang kompleks. Perusahaan berkomunikasi dengan perantara, konsumen dan berbagai kelompok masyarakat. Kemudian perantara berkomunikasi kepada konsumennya dan masyarakat. Konsumen melakukan komunikasi lisan dengan konsumen lain dan kelompok masyarakat lain. Sementara itu, setiap kelompok memberikan umpan balik kepada setiap kelompok lain.

Dalam komunikasi pemasaran terdapat  tahap pemakaian, perancang komunikasi harus memikirkan cara bagaimana agar konsumen tertarik untuk membeli lagi produk (repeat order/buying). Karena itu yang perlu diperhatikan adalah tingkat kepuasan terhadap produk, layanan konsumen dan terhadap program-program yang telah dijalankan. Keluhan-keluhan, pendapat, kritik dan saran konsumen merupakan dasar pijakan penting untuk membuat komunikasi yang strategis dalam menciptakan pembelian kembali konsumen terhadap produk yang dijual. 

Pada tahap pasca pemakaian, perancang komunikasi harus memikirkan bagaimana agar konsumen setia atau loyal terhadap produk atau merek dan bahkan membuat mereka dengan penuh semangat menciptakan pengalaman manis mereka kepada orang lain. Lebih dari itu, mereka bahkan berusaha membujuk orang lain untuk ikut mencoba atau membeli produk. Komunikasi pemasaran demikian dinamakan  bauran promosi yang terdiri dari kontak personal, iklan, publisitas dan public relations, promosi penjualan, instructional material dan design perusahaan. 

Kebutuhan dan keinginan konsumen akan barang dan jasa berkembang terus dan mempengaruhi perilaku belanja produk. Salah satunya untuk mempengaruhi perilaku belanja produk  adalah usaha ritel. Ritel merupakan perangkat dari aktivitas-aktivitas bisnis yang melakukan penambahan nilai terhadap produk-produk dan layanan penjualan kepada para konsumen untuk penggunaan atau konsumsi perseorangan atau keluarga. Para peritel berusaha memuaskan kebutuhan konsumennya dengan mencari kesesuaian antara barang-barang yang dimilikinya dengan harga yang ditawarkan, tempat yang ada, dan waktu yang diinginkan oleh konsumennya.

Usaha lainnya yang dilakukan oleh  perusahaan adalah mengefektifkan strategi pemasaran dilakukan melalui riset perilaku konsumen. Hasil riset akan berguna untuk memperbaiki strategi produk, harga, dan program periklanan khususnya promosi penjualan yang meyakinkan pelanggan. Promosi penjualan yang dilakukan seperti pemberian sampel dengan gratis untuk dicoba, potongan  harga, pemberian kupon,dan promosi harga (Lovelock dan Wirtz). Promosi penjualan dijalankan oleh ritel untuk mempertahankan minat berbelanja, memancing konsumen potensial yang belum pernah berbelanja pada ritel tersebut dan memanfaatkan kecenderungan pola perilaku belanja pelanggan.



Selanjutnya faktor yang mempengaruhi perilaku konsumen diantaranya faktor individu, (Kleinsteuber dalam Sutojo, 2002). Selain itu faktor lingkungan yang berhubungan dengan keputusan pembelian. (Darden dan Grifin, 1994). Keputusan pembelian yang dilakukan belum tentu direncanakan, terdapat pembelian yang tidak direncanakan (impulsive buying) akibat adanya rangsangan lingkungan belanja dan promosi penjualan yang dilakukan perusahan. Kemampuan untuk menghabiskan uang membuat seseorang merasa berkuasa. Pembelian tidak terencana, berarti kegiatan untuk menghabiskan uang yang tidak terkontrol, kebanyakan pada barang-barang yang tidak diperlukan. Barang-barang yang dibeli secara tidak terencana (produk impulsif) lebih banyak pada barang yang diinginkan untuk dibeli, dan kebanyakan dari barang itu tidak diperlukan oleh konsumen (Hatane, 2005)

Kegiatan promosi untuk produk yang dibeli  adalah berfrekuensi sesering mungkin untuk mengingatkan konsumen. Hal ini dilakukan karena konsumen tidak begitu mengingat-ingat apa yang akan dibelinya dan timbul keinginan membeli saat mereka diingatkan kembali. Dengan demikian desain iklan dirancang dengan memfokuskan diri pada tujuan mengingatkan kembali dengan durasi penyampaian yang singkat, juga tidak lupa letak produk di rak toko terlihat jelas oleh konsumen. Bagaimana menurut anda contoh skripsi di atas. Selamat menyusun skripsi.

CONTOH PROPOSAL SKRIPSI AKUNTANSI

Saya akan mencoba mahasiswa akuntansi untuk membuat sebuah proposal skripsi. Proposal akuntansi sebenarnya memiliki banyak topik karena sangat kena dengan perusahaan. Setiap perusahaan membutuhkan akuntansi. Salah satu topik proposal skripsi adalah partisipasi anggaran. Partisipasi anggaran telah menjadi salah satu bidang penelitian yang paling komprehensif dalam penelitian mengenai perilaku dalam akuntansi manajemen. Pentingnya partisipasi anggaran oleh bawahan dengan tujuan untuk memperbaiki kinerja telah diuji secara luas dalam literatur akuntansi perilaku (misalnya Brownell 1981, 1982; Brownell and McInnes (1986; Chenhall and Brownell 1988; Mia 1988, 1989; Kren 1992; Magner et al., 1996; Nouri and Parker 1998). Para peneliti menyatakan bahwa partisipasi dalam proses anggaran berperan sebagai fungsi untuk membujuk dan mengarahkan para bawahan untuk menerima dan berkomitmen terhadap tujuan anggarannya (Argyris 1952; Becker dan Green 1962; Hofstede 1968; Searfoss dan  Monczka1973; Kenis 1979; Merchant 1981). Lebih lanjut, diargumentasikan bahwa partisipasi anggaran juga berperan sebagai fungsi informasional yang dapat dikumpulkan, ditukarkan, dan informasi yang relevan dengan kerja yang dapat disebarkan oleh para bawahan untuk memfasilitasi proses pembuatan keputusan dan untuk mengkomunikasikan informasi pribadinya kepada para pembuat keputusan organisasional (Earley dan Kanfer 1985; Campbell dan Gingrich 1986; Murray 1990; Kren 1992; Shields dan Young 1993; Magner et al. 1996; Nouri dan Parker 1998). Pola hubungan partisipasi anggaran dan kinerja manajerial telah menjadi salah satu bidang yang paling komprehensif, namun demikian  hanya ada beberapa variabel-variabel yang terkait yang telah diselidiki seperti yang dilakukan oleh Hoopwood (1972), di mana dia mengidentifikasi bahwa ada 3 macam gaya yang berbeda dari anggaran dan informasi biaya aktual yang digunakan oleh manajer untuk mengevaluasi kinerja. Tetapi Otley (1978) memiliki hasil yang berbeda dalam penelitiannya. Perbedaan dalam kedua studi ini telah mendorong penelitian-penelitian untuk menguji keanekaragaman variabel-variabel (Briers dan Hirst, 1990).


Kesimpulan dan hasil penelitian terdahulu  tentang hubungan antara partisipasi anggaran dan kinerja manajerial sangat bervariasi. Beberapa studi memberikan hubungan yang positif dan signifikan antara partisipasi anggaran dan kinerja (Brownell, 1981, 1982; Schuler & Kim, 1979; Bass & Leavitt, 1963; Becker & Green, 1962), sedangkan beberapa penelitian lain mempeoleh bukti tidaka ada  perbedaan  dalam kinerja antara anggaran partisipatif dan anggaran non-partisipatif (Kenis, 1979; Ivancevich, 1976; Steers, 1979; Milani, 1975; Foran & Decoster, 1974).  Selain itu, beberapa studi juga melaporkan hubungan yang negatif antara partisipasi dan kinerja, menyarankan bahwa penetapan tujuan otoriter mungkin mengarah kepada kinerja atasan yang dihubungkan dengan penetapan tujuan anggaran (sebagai contoh, Blumenfield & Leidly, 1969; Bryan dan Locke, 1967; Stedry, 1960; Morse dan Reimer, 1956) dalam Agbejule  dan Saarikoski (2006).

Pertanyaan  yang muncul bagaimana menyatukan hasil yang bertentangan tersebut di atas. Satu cara untuk melakukan ini ialah dengan menggunakan pendekatan teori kontijensi. Govindarajan (1986), sebagai contoh, menggunakan ketidakpastian lingkungan sebagai  variabel kontijen dalam mengevaluasi hubungan antara kinerja dan partisipasi anggaran. Hasil penelitiannya  menunjukkan bahwa partisipasi yang tinggi meningkatkan kinerja dalam lingkungan dengan tingkat ketidakpastian yang tinggi, tetapi menghambat kinerja dalam situasi dengan tingkat ketidakpastian yang rendah. Brownell (1981) menemukan bahwa partispasi yang tinggi oleh pekerja dengan locus of control internal mengakibatkan kinerja yang meningkat, sedangkan partisipasi oleh pegawai locus of control external  menghambat kinerja. Sama halnya, Hofstede (1967) dalam Agbejule  dan Saarikoski (2006), menemukan bahwa partisipasi yang meningkat dari karyawan membutuhkan tingkat kebebasan yang tinggi yang dikaitkan dengan kinerja yang meningkat, tetapi hubungan demikian tidak mungkin dicapai dalam kasus dimana pegawai yang memiliki kebutuhan akan tingkat kebebasan yang rendah (Vroom, 1959). 

Peran dari partisipasi anggaran dalam meningkatkan kinerja manajerial telah dibahas secara ekstensif dalam literatur akuntansi (contohnya Brownell, 1981, 1982; Chenhall dan Brownell, 1988; Mia, 1988; Nouri dan Praker, 1998). Peneliti-peneliti ini berpendapat bahwa partisipasi meningkatan keefisienan produktif melalui dua mekanisme utama: motivasional dan informasional (contohnya Locke dan Schweiger, 1979; Erez dan Arad, 1986; Erez, 1993; Latham et al, 1994; Sagie dan Koslowsky, 2000). Penelitian empiris terhadap peran informasional dari partisipasi anggaran secara umum menghasilkan hasil  yang konsisten (Chenhall dan Brownell, 1988; Kren, 1992; Magner, et al, 1996; Mia, 1988). Namun demikian, studi mengenai peran motivasional dari partisipasi anggaran terhadap kinerja  menunjukkan hasil yang inkonsisten (Brownell dan McInnes, 1986; Murray, 1990). Sebagai contoh, Brownell dan McInnes (1986) menemukan bahwa motivasi secara  positif dikaitkan dengan kinerja; partisipasi anggaran tidak dikaitkan dengan motivasi, dan partisipasi anggaran secara positif dan langsung dikaitkan dengan kinerja. Studi dari  Brownell dan McInnes (1986) bermasalah dengan studi sebelumnya (Kenis, 1979; Merchant, 1981) yang menemukan hubungan positif antara motivasi dan pastisipasi anggaran.

Ketidakkonsistenan ini merujuk pada penelitian berikutnya yang menggunakan variabel kontijensi yang berbeda seperti tempat kendali (Brownell, 1981, 1982b; Frucot dan Shearon, 1991); gaya kepemimpinan (Brownell, 1983); ketidakpastian lingkungan (Brownell, 1985; Govindarajan, 1986); perilaku manajerial dan motivasi (Mia, 1988); tingkat kesulitan pekerjaan (Mia, 1989); jenis dari kondisi informasi (Chalos dan Haka, 1989); perjanjian kriteria evaluasi kinerja (Dunk, 1990); tanggapan sosial yang diharapkan (Nouri et al.,1995); desentralisasi (Gul et al., 1995); peran stres (Chong dan Bateman, 2000); umpan balik (Chong dan Chong, 2002) dan kepercayaan dan keadilan  prosedural terhadap ukuran kinerja akuntansi (Lau dan Lim, 2002).

SKRIPSI AKUNTANSI

Seorang mahasiswa akuntansi bertanya kepada saya. Topik apakah yang cocok untuk saya jurusan akuntansi. Saya menjawab bahwa banyak sekali topik skripsi akuntansi. Sistem akuntansi digunakan oleh perusahaan baik perusahaan besar maupun perusahaan kecil. Pada bagian ini saya akan memberikan contoh topik skripsi akuntansi. Topik skripsi akuntansi adalah hubungan antara anggaran dan komitmen organisasi. Anggaran merupakan komponen penting dalam sebuah organisasi, baik organisasi sektor swasta maupun organisasi sektor publik. Menurut Hansen dan Mowen (2004:1), Setiap entitas pencari laba ataupun nirlaba bisa mendapatkan manfaat dari perencanaan dan pengendalian yang diberikan oleh anggaran. Perencanaan dan pengendalian merupakan dua hal yang saling berhubungan. Perencanaan adalah pandangan ke depan untuk melihat tindakan apa yang seharusnya dilakukan agar dapat mewujudkan tujuan-tujuan tertentu. Pengendalian adalah melihat ke belakang, memutuskan apakah yang sebenarnya telah terjadi dan membandingkannya dengan hasil yang direncanakan sebelumnya.

Anggaran merupakan komponen utama dalam perencanaan. Munandar (2001:1), mengungkapkan pengertian anggaran adalah sebagai berikut: “Suatu rencana yang disusun secara sistematis yang meliputi seluruh kegiatan perusahaan, yang dinyatakan dalam unit (kesatuan) moneter dan berlaku untuk jangka waktu (periode) tertentu yang akan datang.” Menurut Mulyadi (1993), anggaran disusun oleh manajemen dalam jangka waktu satu tahun untuk membawa perusahaan ke kondisi tertentu yang diperhitungkan. Dengan anggaran, manajemen mengarahkan jalannya kondisi perusahaan. Tanpa anggaran, dalam jangka pendek perusahaan akan berjalan tanpa arah, dengan pengorbanan sumber daya yang tidak terkendali.

Sebelum anggaran disiapkan, organisasi seharusnya mengembangkan suatu rencana strategis. Rencana strategis mengidentifikasi strategi-strategi untuk aktivitas dan operasi di masa depan, umumnya mencakup setidaknya untuk lima tahun ke depan. Organisasi dapat menerjemahkan strategi umum ke dalam tujuan jangka panjang dan jangka pendek. Tujuan-tujuan ini membentuk dasar anggaran. Hubungan erat antara anggaran dan rencana strategis membantu manajemen untuk memastikan bahwa semua perhatian tidak terfokus pada operasional jangka pendek. Hal ini penting karena anggaran, sebagai rencana satu periode, memiliki sifat untuk jangka pendek (Hansen dan Mowen, 2004:1).

Sistem anggaran memberikan beberapa kelebihan untuk suatu organisasi. Menurut Hansen dan Mowen (2004:1), kelebihan dari sistem anggaran diantaranya anggaran mendorong para manajer untuk mengembangkan arahan umum bagi organisasi, mengantisipasi masalah, dan mengembangkan kebijakan untuk masa depan. Kelebihan lain adalah anggaran dapat memperbaiki pembuatan keputusan. Anggaran juga memberikan standar yang dapat mengendalikan penggunaan berbagai sumber daya organisasi dan memotivasi karyawan. Selain itu, anggaran dapat membantu komunikasi dan koordinasi. Anggaran secara formal mengkomunikasikan rencana organisasi pada tiap pegawai. Jadi, semua pegawai dapat menyadari peranannya dalam pencapaian tujuan tersebut. Oleh karena anggaran untuk berbagai area dan aktivitas organisasi harus bekerja bersama untuk mencapai tujuan organisasi, maka dibutuhkan adanya koordinasi.

Menurut Steers (dalam Sjahbandhyni, 2001:460), ada tiga penyebab komitmen organisasi, yaitu: karakteristik pribadi (kebutuhan berprestasi, masa kerja/jabatan, dan lain-lain), karakteristik pekerjaan (umpan balik, identitas tugas, kesempatan untuk berinteraksi, dll), dan pengalaman kerja. Model tersebut kemudian dimodifikasi menjadi karakteristik pribadi (usia, masa kerja, tingkat pendidikan, jenis kelamin), karakteristik peran/pekerjaan, karakteristik struktural (berkaitan dengan tingkat formalisasi, ketergantungan fungsional dan desentralisasi, partisipasi dalam pengambilan keputusan dan kepemilikan pegawai, serta kontrol organisasi), dan pengalaman kerja (Steers dan Porter, 1983:426-427).

Menurut Amstrong (1992: 183) ada tiga hal yang dipandang dapat mempengaruhi komitmen organisasi, yaitu rasa memiliki terhadap organisasi, rasa senang terhadap pekerjaan, dan kepercayaan pada organisasi. Karakteristik keluarga, faktor harapan pengembangan karir, lingkungan kerja, dan gaji/tunjangan juga turut mempengaruhi komitmen terhadap organisasi. Hal ini sesuai dengan pendapat Susanto (1997:35-36) yang mengemukakan bahwa faktor yang dapat mendukung terciptanya psychological commitment adalah karakteristik pekerjaan, komunikasi interaktif, sistem reward, lingkungan kerja, dan sistem pengembangan sumber daya manusia.



Ringkasnya, faktor-faktor yang mendasari timbulnya komitmen para pegawai dapat berasal dari faktor-faktor eksternal (karakteristik pekerjaan, lingkungan kerja, gaji/tunjangan, dan lain-lain), maupun faktor internal (karakteristik pribadi, harapan pengembangan karir, rasa senang terhadap pekerjaan, kepercayaan pada organisasi, dan lain-lain).

Upaya Meningkatkan Komitmen Organisasi dapat dimulai dari komitmen dari Top Manajemen. Proses untuk memobilisasi komitmen harus dimulai pada tingkat tertinggi dari organisasi dengan kalangan dalam dari para eksekutif. Ketidakkonsistenan dan tidak adanya rasa percaya terhadap pemimpin akan mengurangi kejelasan visi dari suatu organisasi. Para pemimpin mendemonstrasikan komitmen terhadap nilai-nilai melalui perilaku mereka sendisi dan melalui cara mereka memperkuat perilaku orang lain.

Setiap pemimpin organisasi bertanggung jawab dalam memainkan peranan penting dalam menciptakan atmosfer lingkungan kerja yang mendorong setiap personel untuk berkinerja tinggi dengan komitmen organisasi yang tinggi. Mink, dkk. (1993: 161-162) mengemukakan strategi untuk menciptakan atmosfer komitmen organisasi dengan kinerja tinggi.

Saya yakin setelah membaca ini wawasan dan pengetahuan mengenai praktek akuntansi di perusahaan semakin luas dan mendalam. Bagi mahasiswa-mahasiswi akuntansi diperbolehkan mencoba topik ini. Semoga sukses

SKRIPSI MANAJEMEN PEMASARAN: PROMOSI PENJUALAN

Manajemen Pemasaran adalah salah satu jurusan dari program studi manajemen. Manajemen pemasaran sangat unik dan universal sifatnya. Oleh karena itu, penyusunan skripsi manajemen pemasaran sangat relevan dengan dunia bisnis dan kerja di industri mana pun. Pemasaran sangat dibutuhkan oleh perusahaan untuk menjual produknya. Setiap mahasiswa manajemen pemasaran tentunya menyukai dunia pemasaran.

Sasaran utama seorang manajer pemasaran adalah menciptakan dan memelihara bauran pemasaran yang memenuhi kebutuhan-kebutuhan konsumen akan sebuah tipe produk umum. Sebagai bagian dari bauran ini, promosi melibatkan pemberian informasi kepada individu, kelompok, atau organisasi tentang sebuah produk atau jasa dan mengajak mereka untuk menerima produk dan jasa ini. Bauran promosi merujuk pada aspek-aspek komunikasi dari pemasaran, periklanan, penjualan pribadi, promosi penjualan, dan hubungan masyarakat. Para pemasar berupaya mendapatkan bauran promosi yang tepat guna memastikan bahwa sebuah produk diterima dengan baik. 

Menurut Julian dan Roddy, terdapat enam alasan utama untuk perkembangan promosi penjualan yang sangat luas  dan alasan bagi para manajer untuk menyatakan bahwa promosi sangat penting dalam membangun hubungan dengan pelanggan adalah perusahaan makin lama bekerja makin baik. Promosi penjualan menawarkan pemutus rantai (chain breaker) di pasar yang sebagian besar produk yang ditawarkannya sempurna, pelanggan mencari kelebihan dari merek yang mereka beli. Promosi penjualan menawarkan sesuatu yang baru, kegembiraan dan humor di tempat pembelian, tekanan untuk memperoleh hasil dalam jangka pendek makin meningkat, pemirsa TV terfragmentasi sejalan dengan meningkatnya jumlah saluran acara sehingga untuk mencapai kelompok pemirsa tertentu menjadi makin mahal, makin banyaknya merek dan produk yang saling bersaing membuat orang menutup mata dari pesan iklan yang diarahkan ke mereka, riset iklan menunjukkan bagwa pengaruh penjualan dari iklan TV selama periode empat minggu adalah dua sampai tujug kali lebih besar apabila berbarengan dengan promosi.



Salah satu bentuk bauran promosi adalah promosi penjualan. Promosi penjualan adalah sebuah kegiatan atau materi (atau keduanya) yang bertindak sebagai ajakan, memberikan nilai tambah atau insentif untuk membeli produk, kepada para pengecer, penjualan atau konsumen. (Lee dan Johnson: 1999 : 331) Intinya Promosi penjualan secara efektif dapat memikat para konsumen. Hal ini merangsang para produsen dan pedagang eceran serta konsumen untuk membeli suatu produk dan mendorong tenaga penjual agar agresif menjual produk tersebut.

Selanjutnya Kotler dan Armstrong (2006: 441) mengatakan  bahwa  Sales Promotion consists of short-term incentives to encourage purchase or sales of product or service. Defini menjelaskan bahwa Promosi Penjualan berkaitan dengan Insentif jangka pendek untuk mendorong pembelian atau penjualan dari suatu produk atau jasa. Insentif ini berkaitan dengan imbalan, apakah itu berkaitan dengan pengembalian uang dalam bentuk diskon, jaminan atau dapat berupa sample produk dan sebagainya.

Ungkapan serupa dikemukakan oleh Totten & Block (1994) dalam  Ndubisi (2007) stated that the term sales promotion re fers to many kinds of selling incentives and techniques in tended to produce immediate or short-term sales ef fects. Promosi penjualan berkaitan dengan insentif pembelian berupa imbalan kepada konsumen yang bertujuan untuk meningkatkan penjualan yang bersifat jangka pendek.

Selanjutnya Lovelock dan Wirtz  (2004 : 138) mengatakan bahwa promosi penjualan lebih menekankan pada jasa bukan barang. Jasa dalam hal ini berkaitan dengan pelayanan yang diberikan suatu perusahaan pada konsumen yang membeli. Wikibooks' mengemukakan bahwa "Sales promotion describes promotional methods using special short-term techniques to persuade members of a target market to respond or undertake certain activity". Intinya menawarkan sesuatu yang bernilai dan mengharapkan suatu respon yang baik dari konsumen yaitu dengan adanya suatu pembelian yang dapat menguntungkan perusahaan.

Promosi Penjualan (Sales Promotion) adalah upaya pemasaran untuk mendorong calon pembeli agar membeli lebih banyak dan lebih sering (Cummins dan Mullin, 2004:1). Intinya promosi penjualan adalah usaha yang sungguh-sungguh untuk membangun hubungan yang menguntungkan dengan pelanggan dalam jangka panjang, 

Definisi lain diungkapkan oleh Marbun. Promosi Penjualan (Sales Promotion) adalah cara yang digunakan perusahaan bersama-sama dengan bauran pemasaran yang lain (iklan, penjualan perorangan dan lain-lain) untuk meningkatkan penjualan produk-produk mereka (Marbun , 2003 : 294).

Berdasarkan beberapa definisi di atas dapat dikatakan bahwa promosi penjualan merujuk pada penggunaan suatu insentif oleh satu produsen atau penyedia jasa untuk membujuk bisnis-bisnis perdagangan (para pedagang grosir dan eceran) dan atau para konsumen untuk membeli satu merek dan mendorong tenaga penjual gencar menjual produk tersebut.

Demikian informasi yang dapat saya berikan. Saya yakin wawasan dan pengetahuan mengenai manajemen pemasaran dan implikasinya terhadap perusahaan semakin nyata. Silahkan mencoba untuk membuat skripsi dengan topik di atas.

MEMAKNAI TENAGA KERJA

Saya akan mencoba untuk memaparkan makna kerja dan tenaga kerja. Tenaga kerja menurut Undang - Undang Pokok Ketenagakerjaan No 13 Tahun 2003 bab I ketentuan umum pasal (1) : yang dimaksud dengan tenaga kerja adalah “Setiap orang yang mampu melakukan pekerjaan guna menghasilkan barang atau jasa, baik untuk memenuhi kebutuhan sendiri maupun untuk masyarakat”. Menurut Undang – Undang No 14 1969 yang dimaksud dengan tenaga kerja adalah setiap orang yang mampu melakukan pekerjaan baik di dalam maupun di luar hubungan kerja guna menghasilkan barang atau jasa untuk memenuhi kebutuhan masyarakat.
Sedangkan menurut Depnakertrans Tahun 2006 pengertian tenaga kerja ada dua yaitu pertama, setiap orang yg mampu melakukan pekerjaan guna menghasilkan barang dan jasa baik untuk memenuhi kebutuhan sendiri maupun masyarakat. Kedua, setiap orang laki – laki atau wanita yang berumur 15 tahun keatas yang sedang dalam dan atau akan melakukan pekerjaan baik di dalam maupun di luar hubungan kerja guna menghasilkan barang atau jasa untuk memenuhi kebutuhan masyarakat
Menurut Simanjuntak (1998 : 2) tenaga kerja mencakup penduduk (berusia 14 – 60 th) yang sudah atau sedang bekerja, yang sedang mencari pekerjaan, dan yang melakukan kegiatan lain seperti sekolah dan mengurus rumah tangga. Sedangkan menurut Mulyadi (2003 : 59) tenaga kerja (manpower) adalah penduduk dalam usia kerja (berusia 15-64 tahun) atau jumlah seluruh penduduk dalam suatu negara yang dapat memproduksi barang dan jasa jika ada permintaan terhadap tenaga mereka, dan jika mereka mau berpartisipasi dalam aktivitas tersebut. Menurut Kusnadi (1998 : 362) tenaga kerja dapat dibedakan menjadi tiga macam apabila dilihat dari tingkat keahliannya, yaitu:
1. Tenaga Kerja tidak ahli adalah tenaga kerja yang tidak mempunyai keahlian dan hanya mengandalkan kekuatan fisik saja.
2. Tenaga Kerja semi adalah tenaga kerja yang tidak hanya mengandalkan keahlian, biasanya tenaga kerja ini berada pada posisi manajemen tingkat bawah.
3. Tenaga Kerja ahli adalah tenaga kerja yang mengandalkan keahlian dan kemampuannya, biasanya tenaga kerja seperti ini berada pada posisi manajemen tingkat atas.

Angkatan Kerja dan Pasar Kerja
Seberapa besar jumlah orang yang bersedia menawarkan jasanya guna membantu terselesaikannya suatu proses produksi, tergantung kepada besarnya penyediaan atau suppy tenaga kerja di dalam masyarakat. Jumlah orang yang bersedia untuk menjadi tenaga kerja terdiri dari golongan yang telah bekerja dan golongan yang siap untuk bekerja dan golongan yang sedang berusaha untuk mencari pekerjaan. Untuk itu keadaan ini dinamakan angkatan kerja atau Labour Force (Simanjuntak, 1985 :3), sedangkan untuk konsep angkatan kerja secara menyeluruh dinamakan Total Labour Force. Konsep Total Labour Force ini digunakan untuk merumuskan jumlah keseluruhan angkatan kerja dari semua individu yang tidak dilembagakan dan yang berusia 16 tahun ataupun yang lebih tua dalam satu Minggu, termasuk didalamnya adalah angkatan militer, baik yang tenaganya digunakan maupun yang tenaganya tidak digunakan.
Sedangkan proses dimana terjadinya penempatan atau hubungan kerja melalui penyediaan dan permintaan tenaga kerja disebut pasar kerja (Simanjuntak, 1985:3). Seseorang yang telah masuk dalam pasar kerja adalah mereka yang bersedia untuk menawarkan jasanya kelancaran proses produksi. Terdapat 3 golongan dalam angkatan kerja yaitu 1) Golongan menganggur, adalah mereka yang sama sekali tidak bekerja dan tidak berusaha untuk mencari pekerjaan; 2) Golongan setengah menganggur, adalah mereka yang tenaganya kurang dimanfaatkan dalam bekerja jika dilihat dari segi jam kerja, produktivitas kerjanya, dan juga pendapatan yang diterima. Golongan setengah menganggur ini dikelompokkan lagi menjadi 2 golongan kecil yaitu a. Setengah menganggur kentara, adalah mereka yang bekerja kurang dari 35 (tiga puluh lima) jam dalam seminggu; b. Setengah menganggur tidak kentara atau terselubung, adalah mereka yang mempunyai produktivitas dan pendapatan yang rendah.



3) Bukan angkatan kerja meliputi a. Golongan yang masih berstatus sekolah, adalah mereka yang mempunyai kegiatan utama sekolah saja; b. Golongan yang mengurus rumah tangga, adalah mereka yang mempunyai kegiatan sehari – hari hanya mengurus rumah tangga tanpa memperoleh imbalan berupa upah; c. Golongan lain – lain yaitu i. Golongan penerima pendapatan, adalah mereka yang tidak melakukan suatu kegiatan ekonomi tetapi tetap memperoleh penghasilan seperti tunjangan pensuin, bunga atas simpanan atau sewa atas milik; ii. Golongan yang hidupnya tergantung dari orang lain, contohnya lanjut usia, cacat, sedang dalam penjara atau sakit kronis. Golongan ini dapat dikatakan sebagai Potential Labour Force, karena pada saat yang tidak dapat ditentukan golongan ini akan dapat digunakan tenaganya untuk bekerja. Potential Labour Force terdiri dari 1) Discouraged Workers, adalah golongan angkatan kerja yang menarik diri dari pasar kerja untuk sementara waktu yang disebabkan tidak berhasil mendapatkan pekerjaan yang diharapkan; 2) Angkatan kerja sekunder, adalah golongan yang bekerja bila situasi pasar kerja lebih menjanjikan untuk mendapat penghasilan walaupun hanya sementara waktu saja, dan akan kembali kepada kehidupan semula jika kondisi pasar kerja sudah tidak menjanjikan; 3) Angkatan kerja primer, adalah golongan yang terus berada dalam pasar kerja.

Sunday, 29 March 2015

PERBEDAAN INDIVIDU DAN PSIKOLOGI DALAM KEPUTUSAN PEMBELIAN

Saya akan memaparkan perbedaan individu dan psikologi dalam keputusan pembelian. Tentunya untuk membicarakan ini, anda harus sudah memahami teori bahwa persona atau pribadi berpengaruh pada keputusan pembelian. Karakter calon pembeli berpengaruh pada keputusan pembelian suatu produk. Sikap Konsumen selain dipengaruhi oleh lingkungan, juga dipengaruhi oleh perbedaan karakter individu dan faktor psikologis. Oleh karena itu, pada bagian ini akan dibahas kedua faktor tersebut dalam membentuk dan mendukung keputusan pembelian konsumen.



a. Sumber Daya Konsumen
Konsumen membawa tiga sumber daya ke dalam setiap situasi pengambilan keputusan, yaitu sumber daya ekonomi (pendapatan dan kekayaan), sumber daya temporal (waktu) dan sumber daya kognitif (kapasitas mental yang tersedia untuk menjalankan berbagai kegiatan pengolahan informasi). Umumnya terdapat keterbatasan yang jelas pada ketersediaan masing-masing, sehingga memerlukan semacam alokasi yang cermat.
b. Motivasi dan keterlibatan
Kebutuhan adalah peubah utama dalam motivasi. Bila kebutuhan dipenuhi akan menimbulkan adanya motivasi, yaitu dorongan dalam diri seseorang untuk memenuhi kebutuhan dan keinginannya yang diarahkan pada tujuan memperoleh kepuasan. Keterlibatan mengacu pada tingkat relevansi yang disadari dalam tindakan pembelian dan konsumsi.
c. Pengetahuan
Menurut Engel, dkk. (1994), pengetahuan konsumen adalah semua informasi yang dimiliki konsumen mengenai bermacam produk dan jasa, pengetahuan yang terkait dengan produk dan jasa tersebut, serta informasi yang berhubungan dengan fungsinya sebagai konsumen. Pengetahuan individu konsumen dapat dikelompokkan atas tiga kategori, yaitu pengetahuan produk mencakup atribut produk dan kepercayaan merek, pengetahuan tentang proses pembelian (dimana membeli dan kapan membeli) dan pengetahuan tentang penggunaan (dari ingatan konsumen dan iklan).
d. Sikap
Sikap memainkan peranan utama dalam membentuk perilaku. Dalam memutuskan merek apa yang akan dibeli, toko mana untuk dijadikan langganan, konsumen secara khas memilih merek atau toko yang dievaluasi secara paling menguntungkan menurutnya. Sikap seseorang adalah tanggapan yang dibentuk terhadap rangsangan lingkungan yang mempengaruhinya. Sikap ini dibentuk berdasarkan pandangan konsumen terhadap produk dan proses belajar yang diperolehnya dari pengalamannya sendiri dan pengalaman orang lain.
Sikap memiliki tiga komponen, yaitu (1) Komponen kognitif, yang terdiri dari dari kepercayaan konsumen dan pengetahuan tentang obyek, (2) Komponen afektif, yang ditunjukkan dari perasaan dan reaksi emosional kepada suatu obyek, dan (3) Komponen tindakan, adalah respon dari seseorang
terhadap obyek atau aktifitas (Simamora, 2002).
e. Kepribadian, Gaya Hidup dan Demografi
Menurut Engel, dkk. (1994), kepribadian dan gaya hidup merupakan peubah-peubah yang menyebabkan perbedaan dalam konsumsi produk dan preferensi merek. Kepribadian didefinisikan sebagai respons yang konsisten terhadap stimulus lingkungan. Sedangkan gaya hidup didefinisikan sebagai pola dimana orang hidup dan menghabiskan waktu, serta uang. Gaya hidup adalah fungsi motivasi konsumen dan pembelajaran sebelumnya, kelas sosial, demografi dan peubah lainnya. Selain itu perilaku konsumen juga dipengaruhi oleh faktor demografi seperti usia, tingkat pendidikan, pekerjaan, pendidikan dan lain-lain.

Proses Psikologis
Menurut Engel, dkk. (1994), proses psikologis mempunyai pengaruh cukup besar dalam membentuk motivasi dan perilaku konsumen. Ada tiga cara yang membentuk semua aspek motivasi dan perilaku konsumen, yaitu :
a.Pemprosesan Informasi
Pemprosesan informasi mengacu pada proses suatu stimulus diterima, ditafsirkan dan disimpan dalam ingatan, serta belakangan diambil kembali.
b. Pembelajaran
Pembelajaran dapat dipandang sebagai proses dimana pengalaman menyebabkan perubahan dalam pengetahuan, sikap dan perilaku. Definisi ini mencerminkan posisi dua aliran pikiran utama mengenai pembelajaran. Satu perspektif mengenai pembelajaran dikenal sebagai pendekatan kognitif, pembelajaran dicerminkan melalui perubahan pengetahuan. Perspektif lainnya adalah pendekatan behaviorisme yaitu pembelajaran dengan perilaku yang dapat diamati.
c. Perubahan Sikap dan Perilaku
Sikap konsumen akan mengalami perubahan dalam pengambilan keputusan pembelian, setelah mendapatkan informasi dan pembelajaran akan suatu produk. Tahap ini akan menentukan produk mana yang akan konsumen konsumsi.

Demikian informasi yang dapat saya berikan. Saya yakin informasi di atas menambah wawasan anda mengenai pengaruh karakter individu terhadap keputusan pembelian. Anda boleh mengkajinya kembali dalam sebuah skripsi atau tesis. Selamat mencoba.

KONSUMEN DAN LINGKUNGANNYA

Menurut Sumarwan (2002), istilah konsumen sering diartikan sebagai dua jenis konsumen, yaitu konsumen individu dan konsumen organisasi. Konsumen individu membeli barang dan jasa untuk digunakan sendiri atau untuk kebutuhan anggota keluarga. Misalnya membeli pakaian, sepatu,
furnitur, TV, rumah, mobil dan lain sebagainya. Sedangkan konsumen organisasi meliputi organisasi bisnis, yayasan, lembaga sosial, kantor pemerintah dan lembaga lainnya (sekolah, perguruan tinggi dan rumah sakit). Semua jenis organisasi itu harus membeli produk peralatan dan jasa-jasa lainnya untuk menjalankan seluruh kegiatan organisasinya. Konsumen individu dan konsumen organisasi adalah sama pentingnya, karena kedua konsumen tersebut memberikan sumbangan yang sangat penting bagi perkembangan dan pertumbuhan ekonomi.

Setiap konsumen dari suatu bisnis diharapkan dapat menjadi pelanggan yang menguntungkan. Pelanggan yang menguntungkan adalah orang, rumah tangga atau perusahaan yang dari waktu ke waktu memberikan arus pendapatan yang melebihi arus biaya wajar yang dikeluarkan oleh perusahaan untuk menarik, menjual dan melayani pelanggan tersebut. Menurut Cambrige Internal Dictionary, pelanggan adalah seseorang yang beberapa kali datang ke tempat yang sama untuk membeli suatu barang atau peralatan (Lupiyoadi dan Hamdani, 2008). Menurut Schiffman, dkk. (2001), mendefinisikan perilaku konsumen (consumen behavior) sebagai perilaku yang diperlihatkan konsumen dalam mencari, membeli, menggunakan, mengevaluasi dan menghabiskan produk yang diharapkan akan memuaskan kebutuhan hidup. Engel, dkk. (1994), mendefinisikan perilaku konsumen sebagai tindakan yang langsung terlibat dalam mendapatkan, mengkomsumsi, dan menghabiskan produk dan jasa, termasuk proses keputusan yang mendahului dan mengikuti tindakan ini.

Sumarwan (2002) menarik kesimpulan bahwa perilaku konsumen adalah semua kegiatan, tindakan, proses psikologis yang mendorong tindakan tersebut pada saat sebelum membeli, ketika membeli, menggunakan, menghabiskan produk dan jasa setelah melakukan hal-hal di atas atau kegiatan mengevaluasi. Menurut Rangkuti (2003) pilihan seseorang untuk membeli suatu produk dipengaruhi oleh empat faktor psikologi utama yaitu motivasi, persepsi, pengetahuan serta keyakinan dan pendirian. Konsumen dipengaruhi oleh beberapa faktor lingkungan sebagai berikut:



a. Budaya
Menurut Engel, dkk. (1994), budaya mengacu pada nilai, gagasan, artefak dan simbol-simbol lain yang bermakna membantu individu untuk berkomunikasi, melakukan penafsiran dan evaluasi sebagai anggota masyarakat. Produk dan jasa mempunyai peranan yang sangat penting dalam mempengaruhi budaya, karena produk mampu membawa pesan makna budaya itu sendiri. Budaya mempengaruhi perilaku konsumen dalam tiga faktor, yaitu (i) budaya yang mempengaruhi struktur konsumsi, (ii) budaya yang mempengaruhi bagaimana individu mengambil keputusan, (iii) budaya adalah peubah utama dalam penciptaan dan komunikasi makna dari sebuah produk.
b. Kelas Sosial
Menurut Engel, dkk. (1994), kelas sosial adalah pembagian individu di dalam masyarakat yang terdiri dari individu-individu yang berbagi nilai, minat dan perilaku yang sama. Ukuran-ukuran yang biasa digunakan untuk menggolongkan masyarakat adalah pendapatan, pendidikan, pekerjaan, kekayaan dan sebagainya. Kelas sosial dapat menunjukkan preferensi produk dan pemilihan merek yang berbeda-beda dalam berbagai kategori produk. 
c. Pengaruh Pribadi
Faktor ini memiliki pengaruh peranan penting dalam pengambilan keputusan konsumen, khususnya jika ada keterlibatan yang tinggi dan risiko yang dirasakan dari suatu produk atau produk pilihan. Pengaruh ini berasal dari kelompok acuan dan pemimpin opini. Kelompok acuan adalah orang-orang yang mempunyai pengaruh langsung maupun tidak langsung terhadap sikap atau perilaku seseorang. Sedangkan pemimpin opini adalah orang dapat dipercaya dan berpengaruh, serta dianggap sebagai sumber informasi mengenai pembelian dan pemakaian produk tertentu.
d. Keluarga
Keluarga menjadi daya tarik para pemasar, karena keluarga memiliki pengaruh yang besar kepada konsumen. Anggota keluarga saling mempengaruhi dalam pengambilan keputusan pembelian dan komsumsi suatu produk. Masing-masing anggota keluarga memiliki peranan penting mencakup pemberi pengaruh, pengambilan keputusan, pembeli dan pemakai.
e. Pengaruh Situasi
Pengaruh situasi ini dapat timbul dari lingkungan fisik (lokasi, tata ruang, suara, warna), lingkungan sosial (orang lain), waktu (momen), tugas (tujuan dan sasaran pembelian) dan keadaan emosional (suasana hati dan kondisi situasional konsumen). 

PENGARUH SIKAP KONSUMEN TERHADAP KEPUTUSAN PEMBELIAN

Banyak faktor yang dapat mempengaruhi keputusan pembelian. Selain harga, service, persepsi dan motivasi, sikap konsumen juga dapat mempengaruhi keputusan pembelian konsumen. Sikap sebagai suatu evaluasi yang menyeluruh dan memungkinkan seseorang untuk merespon dengan cara yangmenguntungkan atau tidak terhadap objek yang dinilai. Sikap adalah pernyataan-pernyataan atau penilaian evaluatif berkaitan dengan objek, orang atau suatu peristiwa (Robbins dan Judge, 2002).
Menurut Simamora (2002) bahwa di dalam sikap terdapat tiga komponen yaitu: 1) Cognitive component: kepercayaan konsumen dan pengetahuan tentang objek. Yang dimaksud objek adalah atribut produk, semakin positif kepercayaan terhadap suatu merek suatu produk maka keseluruhan komponen kognitif akan mendukung sikap secara keseluruhan. 2) Affective component: emosional yang merefleksikan perasaan seseorang terhadap suatu objek, apakah objek tersebut diinginkan atau disukai. 3) Behavioral component: merefleksikan kecenderungan dan perilaku aktual terhadap suatu objek, yang mana komponen ini menunjukkan kecenderungan melakukan suatu tindakan. Menurut Loudan dan Delabitta (2004); komponen kognitif merupakan kepercayaan terhadap merek, komponen afektif merupakan evaluasi merek dan komponen kognatif menyangkut maksud atau niat
untuk membeli.



Faktor-faktor yang Mempengaruhi Sikap Konsumen (Azwar, 1995):
1. Pengalaman Pribadi
Untuk dapat menjadi dasar pembentukan sikap, pengalaman pribadi haruslah meninggalkan kesan yang kuat. Karena itu, sikap akan lebih mudah terbentuk apabila pengalaman pribadi tersebut terjadi dalam situasi yang melibatkan faktor emosional.
2. Pengaruh orang lain yang dianggap penting Pada umumnya, individu cenderung untuk memiliki sikap yang konformis atau searah dengan sikap orang yang dianggap penting. Kecenderungan ini antara lain dimotivasi oleh keinginan untuk berafiliasi dan keinginan untuk menghindari konflik dengan orang yang dianggap penting tersebut.
3. Pengaruh Kebudayaan
Tanpa disadari kebudayaan telah menanamkan garis pengarah sikap kita terhadap berbagai masalah. Kebudayaan telah mewarnai sikap anggota masyarakatnya, karena kebudayaanlah yang memberi corak pengalaman individu-individu masyarakat asuhannya.
4. Media Massa
Dalam pemberitaan surat kabar maupun radio atau media komunikasi lainnya, berita yang seharusnya faktual disampaikan secara objektif cenderung dipengaruhi oleh sikap penulisnya, akibatnya berpengaruh terhadap sikap konsumennya.
5. Lembaga Pendidikan dan Lembaga Agama
Konsep moral dan ajaran dari lembaga pendidikan dan lembaga agama sangat menentukan sistem kepercayaan tidaklah mengherankan jika kalau pada gilirannya konsep tersebut mempengaruhi sikap.
6. Faktor Emosional
Kadang kala, suatu bentuk sikap merupakan pernyataan yang didasari emosi yang berfungsi sebagai semacam penyaluran frustasi atau pengalihan bentuk mekanisme pertahanan ego.
Menurut Setiadi (2003) ada dua faktor yang dapat mempengaruhi maksud pembelian dan keputusan pembelian. Faktor pertama adalah sikap orang lain, sejauh mana sikap orang lain akan mengurangi alternatif pilihan seseorang akan tergantung pada dua hal: (1) Intensitas sikap negatif orang lain tersebut terhadap alternatif pilihan konsumen dan (2) Motivasi konsumen untuk menuruti keinginan
orang lain tersebut. Semakin tinggi intensitas sikap negatif orang lain tersebut akan semakin dekat hubungan orang tersebut dengan konsumen, maka semakin besar kemungkinan konsumen akan menyelesaikan tujuan pembeliannnya.

Demikian informasi yang dapat saya berikan mengenai pengaruh sikap konsumen terhadap keputusan pembelian. Semoga memperkaya wawasan dan pengetahuan anda mengenai sikap konsumen dan keputusan pembelian. Selamat mencoba.

Saturday, 28 March 2015

HUBUNGAN PERUBAHAN PERILAKU DAN ORGANISASI

Saya mengatakan bahwa sudah menjadi sebuah stereotype bahwa konflik merupakan hal yang negatif. Padahal pada kenyataannya belum tentu konflik yang terjadi dalam organisasi selalu akan berdampak buruk bagi prospek organisasi tersebut kedepannya. Perilaku seseorang dibentuk karena banyak faktor, yang paling utama dan paling berperan dalam menempa kepribadian atau perilaku seseorang ialah lingkungan. Apa yang akan terjadi pada lingkungan sekitar pasti akan terekam oleh memori seseorang dan cepat atau lambat akan ada perubahan yang dialami oleh seseorang pada sifat, gaya hidup atau tingkah laku pada dirinya.

Konflik disini merupakan suatu kejadian atau kegiatan yang ada pada suatu organisasi yang terjadi akibat adanya ketidakpuasaan yang dirasakan oleh anggota organisasi. Ketidakpuasan disini bisa saja ketidakpuasan secara pribadi/personal atau ketidakpuasan didalam ruang lingkup organisasi. Adanya perseteruan antar anggota atau anggota organisasi dengan atasan atau bahkan kalangan atas dengan kalangan atas merupakan hal yang sering terjadi pada suatu organisasi, dimana hal-hal itu akan menghasilkan feedback (umpan balik) yang berbeda pada tiap anggota organisasi.

Luthans (2006:452) membedakan konflik berdasarkan hubungan dengan stress yaitu konflik intraindividu, dan konflik berdasarkan dinamika perilaku organisasi atau konflik interaktif. Beberapa macam konflik interaktif yang dapat terjadi pada suatu organisasi adalah konflik antar-pribadi dan konflik internal.  Konflik antar-pribadi merupakan konflik yang muncul diantara satu orang dengan orang lainnya. Setiap manusia memiliki empat kebutuhan dasar psikologis dimana ketika dirasa terganggu, secara otomatis akan mengakibatkan sebuah konflik: kebutuhan untuk dihargai dan diperlakukan sebagai seorang pribadi, kebutuhan memiliki sejumlah kontrol, kebutuhan menjadi pribadi yang konsisten. Konflik internal merupakan kekacauan yang meledak dalam diri seseorang. Konflik ini melibatkan hiruk-pikuknya emosional seseorang ketika keahlian, ketertarikan, tujuan-tujuan atau nilai-nilai diperlunak untuk mengerjakan tugas-tugas atau pengharapan-pengharapan tertentu diluar tingkat kenyamanan atau ketika item-item ini berhadapan dalam konflik secara langsung satu sama lain. Konflik internal merefleksikan kesenjangan pemisah antara apa yang seseorang katakan, apa yang seseorang inginkan dan apa yang seseorang perbuat. Konflik itu merintangi kehidupan sehari-hari seseorang dan bisa melumpuhkan sejumlah orang. Berlawanan dengan kepercayaan umum, konflik tidak selalu merupakan hal yang buruk atau destruktif. Kenyataannya, konflik yang bisa teratasi dengan tepat akan memberikan sejumlah keuntungan baik bagi perilaku masing-masing individu yang terlibat dalam konflik itu maupun organisasi mereka sendiri.
Efek-efek Positif Potensial Konflik adalah Motivasi meningkat, Identifikasi masalah/pemecahan meningkat, Keterpaduan kelompok, Penyesuaian diri pada realita, Keahlian/pengetahuan meningkat, Kreatifitas meningkat, Kontribusi terhadap pencapaian tujuan, Insentif bagi pertumbuhan,



Namun, keuntungan-keuntungan ini tidak bisa direalisasikan dengan segera jika konflik itu diabaikan atau ditangani dengan tidak serius atau terlebih lagi secara tidak tepat. Dalam hal ini, konflik menjadi bersifat mengganggu atau bahkan merusak. (Morris, 2003). Efek-efek Negatif Potensial Konflik adalah Produktifitas menurun, Krisis kepercayaan, Formasi koalisi dengan posisi-posisi yang bertentangan, Kerahasiaan dan aliran informasi menurun, Masalah moral, Konsumsi waktu yang banyak sekali dan Kelumpuhan pengambilan keputusan

Cara atau Taktik Mengatasi Konflik
Mengatasi dan menyelesaikan suatu konflik bukanlah suatu yang sederhana. Cepat-tidaknya suatu konflik dapat diatasi tergantung pada kesediaan dan keterbukaan pihak-pihak yang bersengketa untuk menyelesaikan konflik, berat ringannya bobot atau tingkat konflik tersebut serta kemampuan campur tangan (intervensi) pihak ketiga yang turut berusaha mengatasi konflik yang muncul.

Diatasi oleh pihak-pihak yang bersengketa dengan rujuk yakni suatu usaha pendekatan dan hasrat untuk kerja-sama dan menjalani hubungan yang lebih baik, demi kepentingan bersama. Persuasi adalah usaha mengubah po-sisi pihak lain, dengan menunjukkan kerugian yang mungkin timbul, dengan bukti faktual serta dengan menunjukkan bahwa usul kita menguntungkan dan konsisten dengan norma dan standar keadilan yang berlaku. Tawar-menawar adalah suatu penyelesaian yang dapat diterima kedua pihak, dengan saling mempertukarkan konsesi yang dapat diterima. Dalam cara ini dapat digunakan komunikasi tidak langsung, tanpa mengemukakan janji secara eksplisit. Pemecahan masalah terpadu adalah usaha menyelesaikan masalah dengan memadukan kebutuhan kedua pihak. Proses pertukaran informasi, fakta, perasaan, dan kebutuhan berlangsung secara terbuka dan jujur. Menimbulkan rasa saling percaya dengan merumuskan alternatif pemecahan secara bersama dengan keuntungan yang berimbang bagi kedua pihak. Penarikan diri adalah suatu penyelesaian masalah, yaitu salah satu atau kedua pihak menarik diri dari hubungan. Cara ini efektif apabila dalam tugas kedua pihak tidak perlu berinteraksi dan tidak efektif apabila tugas saling bergantung satu sama lain. Pemaksaan dan penekanan adalah cara memaksa dan menekan pihak lain agar menyerah; akan lebih efektif bila salah satu pihak mempunyai wewenang formal atas pihak lain. Apabila tidak terdapat perbedaan wewenang, dapat dipergunakan ancaman atau bentuk-bentuk intimidasi lainnya. Cara ini sering kurang efektif karena salah satu pihak harus mengalah dan menyerah secara terpaksa.

Intervensi (campur tangan) pihak ketiga:
Apabila pihak yang bersengketa tidak bersedia berunding atau usaha kedua pihak menemui jalan buntu, maka pihak ketiga dapat dilibatkan dalam penyelesaian konflik. Arbitrase (arbitration): Pihak ketiga mendengarkan keluhan kedua pihak dan berfungsi sebagai “hakim” yang mencari pemecahan mengikat. Cara ini mungkin tidak menguntungkan kedua pihak secara sama, tetapi dianggap lebih baik daripada terjadi muncul perilaku saling agresi atau tindakan destruktif. Penengahan (mediation): Menggunakan mediator yang diundang untuk menengahi sengketa. Mediator dapat membantu mengumpulkan fakta, menjalin komunikasi yang terputus, menjernihkan dan memperjelas masalah serta mela-pangkan jalan untuk pemecahan masalah secara terpadu. Efektivitas penengahan tergantung juga pada bakat dan ciri perilaku mediator. Konsultasi: Tujuannya untuk memperbaiki hubungan antar kedua pihak serta mengembangkan kemampuan mereka sendiri untuk menyelesaikan konflik. Konsultan tidak mempunyai wewenang untuk memutuskan dan tidak berusaha untuk menengahi. la menggunakan berbagai teknik untuk meningkatkan persepsi dan kesadaran bahwa tingkah laku kedua pihak terganggu dan tidak berfungsi, sehingga menghambat proses penyelesaian masalah yang menjadi pokok sengketa.

Hal-hal yang Perlu Diperhatikan Dalam Mengatasi Konflik:
1.    Ciptakan sistem dan pelaksanaan komunikasi yang efektif.
2.    Cegahlah konflik yang destruktif sebelum terjadi.
3.    Tetapkan peraturan dan prosedur yang baku terutama yang menyangkut hak karyawan.
4.    Atasan mempunyai peranan penting dalam menyelesaikan konflik yang muncul.
5.    Ciptakanlah iklim dan suasana kerja yang harmonis.
6.    Bentuklah team work dan kerja-sama yang baik antar kelompok/ unit kerja.
7.    Semua pihak hendaknya sadar bahwa semua unit/eselon merupakan mata rantai organisasi yang saling mendukung, jangan ada yang merasa paling hebat.
8.    Bina dan kembangkan rasa solidaritas, toleransi, dan saling pengertian antar unit/departemen/ eselon.

Oleh karena itulah seorang pemimpin organisasi sudah selayaknya memberikan solusi dan penanganan pada hal-hal yang berpotensi dalam membuat suatu konflik positif berlanjut pada konflik yang negatif. Adapun  cara efektif dalam menangani konflik yaitu pahami persoalannya, perjelas persoalannya, evaluasi pendekatan-pendekatan alternatif, selesaikan masalahnya. Dengan demikian arah suatu organisasi akan jelas dalam pencapaian tujuannya.

Demikianlah informasi yang dapat saya berikan mengenai hubungan perubahan perilaku dan organisasi. Saya yakin anda pernah mengalaminya dalam suasana kerja di kantor atau di tempat anda bekerja. Terima kasih telah mengunjungi blog saya.

PENGARUH PERUBAHAN PERILAKU AKIBAT KONFLIK TERHADAP ORGANISASI

Banyak orang mempunyai pengalaman dan pengetahuan yang berbeda-beda  dalam hidupnya, pengalaman serta pengetahuan mereka biasanya didapat dari lingkungan sekitar mereka sendiri. Tanpa disadari, lingkungan mereka lah yang membawa mereka pada sifat dan sikap yang tertanam pada diri masing-masing individu. Berbagai kelakuan serta sifat yang berbeda pada diri seseorang terbentuk kebanyakan bukan dari kemauan mereka secara pribadi, melainkan dikarenakan kebiasaan dari kehidupan yang mereka jalani sehari-hari. Selain kebiasaan yang dilakukan seseorang, hal-hal yang terjadi di sekitar mereka juga dapat menyebabkan adanya perubahan sifat, mental, dan perilaku seseorang.

Beberapa hal yang dapat menjadi faktor pengaruh perubahan dalam kepribadian atau perilaku seseorang secara umum ialah baik atau buruknya hubungan kekeluargaan, hubungan pertemanan, adanya acara-acara di suatu organisasi yang menampilkan sesuatu yang baru, kejahatan yang terjadi pada diri sendiri, cerita atau pengalaman orang lain yang diketahui seseorang, keributan atau konflik yang terjadi pada suatu organisasi, dan masih banyak lagi.

Berbagai kebudayaan, sifat, dan kelakuan dari setiap penduduk di suatu organisasi hampir berbeda-beda, banyak faktor yang dapat berpengaruh. Salah satunya akibat terjadinya konflik, konflik merupakan hal yang akhir-akhir ini bukan suatu hal yang jarang didengar. Konflik merupakan suatu hal yang sangat berkaitan dengan perubahan-perubahan yang terjadi pada suatu organisasi umumnya dan masing-masing individu khususnya, terutama dalam perubahan perilaku individu tersebut.
Artikel ini bermaksud membahas secara teoritis Dampak Perubahan Perilaku Akibat Konflik terhadap Suatu Organisasi.

Penyebab-penyebab Terjadinya Konflik
A.    Definisi Konflik
Banyak sekali definisi tentang konflik. Meskipun konflik memiliki arti yang luas, konflik dapat diartikan adanya oposisi, keterbatasan sumber daya, dan hambatan, serta adanya ketidaksesuaian kepentingan dan tujuan antara dua organisasi atau lebih. Sumber daya seperti uang, pekerjaan, harga diri, prestise, dan kekuasaan adalah sangat terbatas, dan keterbatasan itulah yang mendorong perilaku yang saling menghambat. Ketika satu organisasi menghambat pencapaian tujuan organisasi lain, pada saat itulah sangat besar kemungkinan akan terjadinya konflik.

Menurut Stephen (Stephen P. Robbins:2008) terdapat tiga pandangan akan konflik, yang pertama yaitu pandangan tradisional, pandangan tradisional sesuai dengan sikap yang berlaku pada perilaku organisasi 1930-an dan 1940-an. Pandangan ini beranggapan bahwa konflik dipandang secara negatif, dan konflik digunakan secara bersamaan dengan istilah kekerasan, perusakan, dan ketidakrasionalan untuk memperkuat kesan negatif konflik tersebut. Oleh karenanya konflik dihindari. Pandangan bahwa seluruh konflik itu buruk tentu saja merupakan pendekatan sederhana dalam memandang perilaku individu-individu yang menciptakan konflik. Walaupun banyak kajian pada saat ini yang menyangkal pendekatan yang beranggapan bahwa pengurangan konflik dapat menghasilkan kinerja organisasi yang tinggi, namun banyak dari kita yang masih mengevaluasi situasi konflik berdasarkan pendekatan tradisional yang bisa dibilang ketinggalan zaman. Kedua, pandangan hubungan kemanusiaan, yang berpendapat bahwa konflik tidak mungkin dihindari, maka aliran yang menganut hubungan kemanusiaan menyarankan untuk menerima konflik. Mereka merasionalkan keberadaan konflik, bahwa konflik tidak dapat dihapuskan, dan bahkan terkadang konflik dapat mendatangkan manfaat bagi kinerja organisasi. Aliran pemikiran ini mempercayai bahwa konflik merupakan suatu hasil yang alamiah dan tidak dapat dielakkan dalam organisasi mana pun juga. Pandangan hubungan kemanusiaan ini mendominasi teori konflik sejak akhir tahun 1940-an sampai dengan pertengahan tahun 1970-an. Terakhir, pandangan terkini tentang konflik adalah  pandangan interaksionis. Berbeda dengan pendekatan hubungan kemanusiaan yang hanya menerima konflik, pendekatan interaksionis justru mendorong konflik dengan alasan bahwa suatu organisasi yang harmonis, damai, tenang, dan kooperatif dapat menjadi organisasi yang statis, apatis, dan tidak tanggap pada kebutuhan untuk melakukan perubahan dan inovasi. Pandangan ini tidak hanya menyarankan bahwa konflik dapat menjadi kekuatan positif dalam suatu organisasi, namun secara eksplisit berkeyakinan bahwa konflik benar-benar diperlukan oleh suatu organisasi untuk menciptakan kinerja secara efektif.



Secara spesifik, perlu dibedakan antara konflik fungsional dan disfungsional. Tidak ada konflik yang dapat diterima atau ditolak pada semua kondisi. Jenis dan tingkatan konflik yang dapat mencipatakan partisipasi yang sehat dan positif dalam mencapai tujuan tertentu bagi suatu organisasi, dalam hal ini dapat dikatakan sebagai konflik yang fungsional. Adapun ketika suatu organisasi mengalami konflik, dan pada akhirnya organisasi tersebut mendapatkan tatanan kehidupan yang lebih buruk karenanya, maka konflik yang terjadi bersifat disfungsional.

B. Proses Konflik
Proses konflik dapat berkembang melalui empat tahapan yaitu
1)    Oposisi Potensial
Tahap pertama dalam proses konflik adalah adanya kondisi yang menciptakan kesempatan timbulnya sebuah konflik. Kesempatan-kesempatan ini tidak harus mengarah langsung pada konflik, namun salah satu dari kondisi tersebut harus ada untuk timbulnya konflik. Secara sederhana, kondisi ini (yang juga dapat dipandang sebagai penyebab atau sumber konflik) telah didapatkan menjadi tiga kategori umum, yakni: komunikasi, struktur, dan faktor pribadi.
Komunikasi.   Sumber komunikasi merupakan penyebab konflik yang muncul dari kesulitan semantik, kesalahpahaman, dan “hambatan” dalam saluran komunikasi (Mulyana, Deddy. 2004). Peningkatan komunikasi merupakan hal yang fungsional sampai titik tertentu, namun mungkin saja kemudian terjadi komunikasi yang berlebihan, yang mengakibatkan potensi terjadinya konflik. Saluran yang dipilih untuk berkomunikasi juga dapat memiliki pengaruh dalam merangsang pertentangan. Proses penyaringan yang terjadi ketika informasi lewat di antara para anggota dan perbedaan komunikasi dari saluran formal atau saluran yang sebelumnya mapan merupakan peluang potensial untuk munculnya konflik.
Struktur. Istilah struktur yang digunakan dalam konteks ini meliputi variabel ukuran; tingkat kerutinan, spesialisasi, dan standardisasi tugas yang dibebankan pada anggota organisasi; keheterogenan organisasi; gaya kepemimpinan; system penghargaan; dan tingkat ketergantungan antarorganisasi. Penelitian menunjukkan bahwa ukuran dan spesialisasi berperan sebagai kekuatan aktivitas yang lebih terspealisasi, memiliki peluang konflik yang lebih besar. Terdapat beberapa indikasi yang menunjukkan bahwa gaya kepemimpinan tertutup, yaitu melakukan observasi yang ketat dan terus menerus dengan pengendalian yang sangat membatasi perilaku anggota lainnya, dapat meningkatkan potensi konflik. Sistem penghargaan juga dapat menjadi penyebab terjadinya konflik, bila keuntungan yang didapatkan seorang anggota merugikan orang lain.
Faktor pribadi. Faktor pribadi yang paling penting adalah keistimewaan dan perbedaan sistem nilai individu. Tipe kepribadian individu tertentu seperti orang yang sangat otoritarian, dogmatik, dan rendah diri memiliki potensi konflik. Yang paling penting dan mungkin variabel yang paling banyak dilupakan dalam studi-studi mengenai konflik sosial, adalah dugaan mengenai sistem nilai yang berbeda. Yakni, individu berbeda dalam memberikan penekanan pada nilai seperti nilai kebebasan, waktu luang, kerja keras, menghargai diri sendiri, kejujuran, ketaatan, dan keadilan.
2)    Kognisi dan Personalisasi
Jika kondisi-kondisi yang disebutkan pada tahap pertama menyebabkan frustasi, barulah kemudian potensi bagi oposisi disadari dalam tahap kedua ini. Kondisi awal dapat mengarah pada terjadinya konflik hanya jika satu pihak atau lebih dipengaruhi dan dikognisasi oleh konflik tersebut. Pada tahap ini konflik baru dirasakan ketika para individu terlibat secara emosional dan pihak-pihak tersebut mengalami kekhawatiran, ketegangan, frustasi, atau permusuhan.
3)    Perilaku
Pada tahap ini, proses konflik berada ketika seorang anggota terlibat dalam tindakan yang menyebabkan rasa frustasi terhadap suatu organisasi dalam mencapai tujuan-tujuannya atau lebih jauh mencegah dan menghalang-halangi kepentingan orang lain. Tindakan ini pasti sudaj direncanakan; yakni, mestinya ada usaha-usaha yang jelas untuk membuat pihak lain merasa frustasi. Pada saat ini konflik telah muncul dan terbuka. Di tahap ini juga merupakan tahap di mana perilaku penanganan konflik paling banyak dimulai. Begitu konflik terlihat nyata, pihak-pihak tersebut. Perilaku penanganan konflik dapat diawali pada tahap kedua. Namun dalam banyak kasus, teknik untuk mengurangi perasaan frustasi tidak digunakan sebagai usaha pencegahan, kecuali bila konflik tersebut dapat diamati. Lima pendekatan dalam penanganan konflik yang biasanya digunakan adalah: kompetisi, kolaborasi, penghindaran, akomodasi, kompromi.

4)    Hasil
Kondisi saling mempengaruhi antara perilaku konflik yang nyata dengan perilaku penanganan konflik menghasilkan konsekuensi. Sebagaimana ditunjukkan pada gambar 1, keduanya mungkin fungsional dalam arti bahwa konflik tersebut memberikan perbaikan terhadap kinerja organisasi. Sebaliknya, kinerja organisasi dapat dihambat konflik dan hasilnya menjadi disfungsional.

C. AKIBAT KONFLIK
Dalam interaksi dan interelasi sosial antar individu atau antar kelompok, konflik sebenarnya merupakan hal alamiah. Dahulu konflik dianggap sebagai gejala atau fenomena yang tidak wajar dan berakibat negatif, tetapi sekarang konflik dianggap sebagai gejala yang wajar yang dapat berakibat negatif maupun positif tergantung bagaimana cara mengelolanya. 
Dari pandangan baru dapat kita lihat bahwa pimpinan atau manajer tidak hanya wajib menekan dan memecahkan konflik yang terjadi, tetapi juga wajib untuk mengelola/memanaj konflik sehingga aspek-aspek yang membahayakan dapat dihindari dan ditekan seminimal mungkin, dan aspek-aspek yang menguntungkan dikembangkan semaksimal mungkin. 

Penyebab Konflik
Konflik di dalam organisasi dapat disebabkan oleh faktor-faktor sebagai berikut: 
A. Faktor Manusia
1. Ditimbulkan oleh atasan, terutama karena gaya kepemimpinannya.
2. Personil yang mempertahankan peraturan-peraturan secara kaku.
3. Timbul karena ciri-ciri kepriba-dian individual, antara lain sikap egoistis, temperamental, sikap fanatik, dan sikap otoriter.
B. Faktor Organisasi
1. Persaingan dalam menggunakan sumberdaya.
Apabila sumberdaya baik berupa uang, material, atau sarana lainnya terbatas atau dibatasi, maka dapat timbul persaingan dalam penggunaannya. Ini merupakan potensi terjadinya konflik antar unit/departemen dalam suatu organisasi.
2. Perbedaan tujuan antar unit-unit organisasi.
Tiap-tiap unit dalam organisasi mempunyai spesialisasi dalam fungsi, tugas, dan bidangnya. Perbedaan ini sering mengarah pada konflik minat antar unit tersebut. Misalnya, unit penjualan menginginkan harga yang relatif rendah dengan tujuan untuk lebih menarik konsumen, sementara unit produksi menginginkan harga yang tinggi dengan tujuan untuk memajukan perusahaan.
3. Interdependensi tugas.
Konflik terjadi karena adanya saling ketergantungan antara satu kelompok dengan kelompok lainnya. Kelompok yang satu tidak dapat bekerja karena menunggu hasil kerja dari kelompok lainnya.
4. Perbedaan nilai dan persepsi.
Suatu kelompok tertentu mempunyai persepsi yang negatif, karena merasa mendapat perlakuan yang tidak “adil”. Para manajer yang relatif muda memiliki persepsi bahwa mereka mendapat tugas-tugas yang cukup berat, rutin dan rumit, sedangkan para manajer senior mendapat tugas yang ringan dan sederhana.
5. Kekaburan yurisdiksional. Konflik terjadi karena batas-batas aturan tidak jelas, yaitu adanya tanggung jawab yang tumpang tindih.
6. Masalah “status”. Konflik dapat terjadi karena suatu unit/departemen mencoba memperbaiki dan meningkatkan status, sedangkan unit/departemen yang lain menganggap sebagai sesuatu yang mengancam posisinya dalam status hirarki organisasi.
7. Hambatan komunikasi. Hambatan komunikasi, baik dalam perencanaan, pengawasan, koordinasi bahkan kepemimpinan dapat menimbulkan konflik antar unit/ departemen. 

Akibat-akibat Konflik
Konflik dapat berakibat negatif maupun positif tergantung pada cara mengelola konflik tersebut.
Akibat negative
•    Menghambat komunikasi.
•    Mengganggu kohesi (keeratan hubungan).
•    Mengganggu kerjasama atau “team work”.
•    Mengganggu proses produksi, bahkan dapat menurunkan produksi.
•    Menumbuhkan ketidakpuasan terhadap pekerjaan.
•    Individu atau personil menga-lami tekanan (stress), mengganggu konsentrasi, menimbulkan kecemasan, mangkir, menarik diri, frustrasi, dan apatisme.
Akibat Positif dari konflik:
•    Membuat organisasi tetap hidup dan harmonis.
•    Berusaha menyesuaikan diri dengan lingkungan.
Melakukan adaptasi, sehingga dapat terjadi perubahan dan per-baikan dalam sistem dan prosedur, mekanisme, program, bahkan tujuan organisasi.
•    Memunculkan keputusan-keputusan yang bersifat inovatif.
•    Memunculkan persepsi yang lebih kritis terhadap perbedaan pendapat.

Perubahan Perilaku Pada Suatu Organisasi atau Individu
Perilaku adalah suatu kegiatan, perbuatan, dan  tindakan yang dilakukan seseorang terhadap diri sendiri ataupun lingkungannya. Seorang individu pasti akan mengalami perubahan perilaku pada dirinya, baik perubahan yang tidak terlalu terlihat oleh orang lain, ataupun perubahan yang sifatnya hampir menyeluruh. Setiap individu pasti berbeda dalam melihat suatu masalah dalam hidupnya, dan pasti akan berbeda pula dalam menyikapi masalah yang terjadi pada dirinya, hal ini didasarkan akan kepribadian mereka masing-masing. 

Sudah menjadi sebuah fakta bahwa suatu organisasi tidak akan berjalan tanpa adanya anggota, dan suatu organisasi tidak akan berjalan dengan lancar tanpa ketekunan dan komitmen anggota terhadap tujuan organisasi itu sendiri. Ketika seseorang berada pada suatu organisasi, maka perubahan perilaku seseorang merupakan variabel penting yang harus diperhatikan. Perubahan perilaku merupakan hal yang sangat sensitif bagi kelangsungan perjalanan sebuah organisasi. Dengan adanya perubahan perilaku pada seorang anggota bukan berarti akan selalu membawa dampak yang buruk bagi suatu organisasi, dampak positif juga dapat terjadi ketika perubahan perilaku mengarah pada perubahan yang positif pula.

Price dalam Ahmadi (2005) mengatakan bahwa Perubahan perilaku sangat erat kaitannya dengan kepribadian. Kepribadianlah yang akan mempengaruhi perilaku seseorang. Kepribadian adalah kumpulan pembawaan biologis berupa dorongan, kecenderungan, selera, dan insting yang dicampuri dengan sifat dan kecendrungan yang didapat melalui pengalaman yang terdapat pada diri seseorang, Dari definisi tersebut bisa kita lihat bahwa keperibadian adalah sesuatu yang sudah tertanam pada seseorang sejak lahir dimana keluarga sebagai pembentuk utama kepribadian seseorang. (Munandar, Utami. 2001). Karena itu, dapat dipahami cukup besar pengaruh dan peranan keluarga serta orang tua dalam membentuk/menempa pribadi seseorang.
Pengalaman-pengalaman umum maupun khusus memberi pengaruh yang berbeda-beda pada tiap-tiap individu dan individu-individu itu pun merencanakan pengalaman-pengalaman tersebut secara berbeda-beda pula, sampai pada akhirnya ia membentuk dalam dirinya suatu struktur kepribadian yang tetap (permanen). 
Menurut Jung dalam Robbins (2008)  penggolongan pada tingkah laku atau karakteristik psikologis manusia dibagi menjadi 3 jenis:
1.    Jenis introvert: terutama dalam keadaan emosional atau konflik orang dengan kepribadian ini cenderung menarik diri dan menyendiri. 
2.    Jenis ekstrovert: orang dengan kepribadian ini kalau merasa tertekan akan menggabungkan diri dengan orang banyak sehingga individualitasnya berkurang. 
3.    Jenis ambivert: yaitu orang-orang yang tidak termasuk introvert maupun ekstrovert. Ciri kepribadiannya merupakan campuran dari kedua jenis di atas.
Dengan penggolongan diatas dapat disimpulkan bahwa kepribadian sangat berpengaruh pada tingkah laku atau perilaku seseorang, yang akan membentuk pola hidup baik bagi dirinya sendiri maupun bagi organisasinya (dalam hal ini lebih ditekankan kepribadian individu yang berpengaruh pada sebuah organisasi).

Adapun proses pembentukan perilaku terjadi apabila seorang individu memasuki organisasi dengan sekumpulan sikap yang secara relatif sudah berakar dan kepribadian yang pada dasarnya sudah mapan. Walaupun tidak terpasang secara permanen, sikap dan perilaku seorang karyawan pada dasarnya “sudah demikian” pada saat dia memasuki organisasi. Bagaimana seorang karyawan menginterpretasikan lingkungan kerjanya (persepsi) akan mempengaruhi tingkat motivasi mereka. Begitu juga dengan pembelajaran yang lambat laun akan mengubah kemampuan seseorang, apa yang mereka pelajari dalam pekerjaan, dan akhirnya akan menjadi perilaku kerja mereka.