Saturday, 28 March 2015

PRINSIP DASAR VARIABLE COSTING

Secara umum tujuan perusahaan adalah mencari atau menghasilkan laba dengan mengerahkan sumber-sumber ekonomi dalam berbagai bentuk dengan pengelolaan yang baik dan terarah. Akan tetapi pada beberapa perusahaan sering terjadi sumber-sumber ekonomi tidak dimanfaatkan secara penuh sehingga timbul kapasitas menganggur (Idle capacity), yang disebabkan oleh bermacam-macam faktor antara lain keterbatasan pasar menampung produksi, sehingga perusahaan hanya bekerja/berproduksi atas dasar daya serap pasar tersebut. Persoalan sekarang adalah bagaimana menajemen dapat memanfaatkan kapasitas itu sehingga mampu menaikkan contribution margin yang dapat meningkatkan laba perusahaan secara keseluruhan. Atau apakah kapasitas tadi dibiarkan menganggur tanpa menghasilkan sesuatu ?

Ada dua konsep biaya produksi yang menjadi pemikiran para ahli akuntansi biaya. Konsep Full Costing dan Varible Costing. Konsep ini menjadi berbeda akibat adanya perbedaan pengakuan terhadap biaya overhead pabrik tetap (BOPT). Dalam konsep full costing BOPT diakui sebagai bagian integral biaya produksi (harga pokok produksi). Sedangkan variable costing sebaliknya, yaitu tidak menganggap BOPT sebagai bagian biaya produksi yang elementer. Alasan yang kahir mengakibatkan timbulnya pertentangan yang tajam antara pembela kedua konsep tersebut adalah BOPT merupakan period cost, yaitu biaya-biaya yang harus dibebankan langsung pada tahun yang berjalan dan tidak ada gunanya lagi ditangguhkan, karena hal yang sama akan dibebankan pada periode mendatang. Machvoedz ( 1988 : 102 ) “ biaya-biaya seperti depresiasi, asuransi-asuransi, dan pajak-pajak merupakan fungsi waktu, jadi tidak tepat kalau dibebankan kepada produk.”



IAI ( 1984 : 24 ) dalam Prinsip Akuntansi Indonesia juga mengisyaratkan demikian, yaitu full costing dianggap sebagai metode yang tepat untuk penentuan harga pokok. AICPA menyatakan dalam Accounting Research Bulletin No. 43, statement 3, bahwa “ Harus diketahui pengeluaran semua overhead dari biaya persediaan tidak merupakan prosedur akuntansi yang diterima “ (Hadibroto : 1982:24 ). Pernyataan ini secara eksplisist tidak bertentangan dengan keinginan metode VC, karena
VC tidak mengeluarkan semua overhead dari komponen biaya produksi, tetapi hanya BOPT saja. dAn ini akan sangat berbeda dengan apa yang dianut PAI yang secara implisit menolak metode VC.
Perkembangan pemikian teori akuntansi ke depan menginginkan gerak perkembangan teori yang lebih maju dan objektif. Itu berarti pertentangan pemikiran yang demikian dapat di- terima. Hadibroto (1982 : 24 ) dalam disertainya tidak berani mengambil sikap atas perbedaan pendapat ini, terbukti dengan pernyataan “ Bukanlah tujuan penulis ini untuk menentukan sikap dalam pertentangan ini. Akan tetapi, harus ditegaskan bahwa nampaknya ada persesuaian paham bahwa “direct costing" adalah metode yang berguna bagi pengambilan keputusan manajemen “. walapun secara konsepsual VC tidak kalah dengan metode FC. Demikian juga untuk menilai hasil kerja manajemen dan dalam pasar dewasa ini yang makin kompetitif, maka metode VC ternyata lebih unggul. Dan pihak pemegang saham, kreditur seharusnya menilai hasil kerja manajemen dalam menyusun laporan keuangannya dengan VC, sehingga keputusan yang harus diambil pun makin akurat.

1 comment:

  1. Prinsip kedua metode ini dipakai sesuai dengan keinginan penjual.

    ReplyDelete